Ada anak tetangga depan rumah kami, seorang lakilaki yang baru berumur dua tahun, sering mampir ke rumah kami. Namanya Gamaliel Situmorang, kami panggil "iel", seperti anak-anak pada umumnya iel sangat lucu, periang dan menggemaskan. Biarpun sama-sama orang batak, tapi orang tuanya mengajarkan iel memanggil saya oom, dan istri saya tante wiwi. Kami pun maklum saja dipanggil demikian , karena latar belakang keluarga mereka yang penganut Pentakosta, pendeta pun dipanggil oom. Dan juga karena saya belum martarombo dengan bapaknya, saya berpikir bapaknya sudah tak tahu lagi ilmu persilsilahan batak, karena memang sudah besar di perantauan. Tapi hal itu tidaklah mengurangi persahabatan saya dengan iel, dia sudah saya anggap sahabat saya biarpun umurnya baru dua tahun, saya senang kalau dia datang ke rumah, biasanya langung menyapa dan mencari saya,"mana oomnya?" tante, mana oom?". Bahkan iel pun salah memanggil istri saya dengan "tante wiwi", karena pertama diajari oleh mamanya, memanggil adik ipar saya Dewi yang dulu tinggal di rumah tante wiwi, setelah Dewi pindah dari rumah jadilah istri saya yang dipanggil "tante wiwi". Iel saya anggap anak pintar karena selalu bertanya, tak habis-habisnya, dan saya senang-senang saja melayani pertanyaannya. Selain bermain-main iel juga senang mencari jajanan didalam rumah kami, apa yang ada selalu kami berikan dan dia akan bilang "enyak, enyak oom!" . Kalau kami mau makan, selalu kami siapkan porsi untuk iel, kadang-kadang mamanya merasa tak enak dengan kami, padahal kami enjoy aja, iel adalah anak yang pintar.
Anak tetangga bernama Gamaliel Situmorang
Advertisement