
JP Morra

JP Morra
Jumat 10 April 2009 on.
Parningotan di ari hamamate ni Tuhan Jesus.
Balga nai holong nai.
Humongkop hita jolma.

Tarsilang Jesus
Ada anak tetangga depan rumah kami, seorang lakilaki yang baru berumur dua tahun, sering mampir ke rumah kami. Namanya Gamaliel Situmorang, kami panggil "iel", seperti anak-anak pada umumnya iel sangat lucu, periang dan menggemaskan. Biarpun sama-sama orang batak, tapi orang tuanya mengajarkan iel memanggil saya oom, dan istri saya tante wiwi. Kami pun maklum saja dipanggil demikian , karena latar belakang keluarga mereka yang penganut Pentakosta, pendeta pun dipanggil oom. Dan juga karena saya belum martarombo dengan bapaknya, saya berpikir bapaknya sudah tak tahu lagi ilmu persilsilahan batak, karena memang sudah besar di perantauan. Tapi hal itu tidaklah mengurangi persahabatan saya dengan iel, dia sudah saya anggap sahabat saya biarpun umurnya baru dua tahun, saya senang kalau dia datang ke rumah, biasanya langung menyapa dan mencari saya,"mana oomnya?" tante, mana oom?". Bahkan iel pun salah memanggil istri saya dengan "tante wiwi", karena pertama diajari oleh mamanya, memanggil adik ipar saya Dewi yang dulu tinggal di rumah tante wiwi, setelah Dewi pindah dari rumah jadilah istri saya yang dipanggil "tante wiwi". Iel saya anggap anak pintar karena selalu bertanya, tak habis-habisnya, dan saya senang-senang saja melayani pertanyaannya. Selain bermain-main iel juga senang mencari jajanan didalam rumah kami, apa yang ada selalu kami berikan dan dia akan bilang "enyak, enyak oom!" . Kalau kami mau makan, selalu kami siapkan porsi untuk iel, kadang-kadang mamanya merasa tak enak dengan kami, padahal kami enjoy aja, iel adalah anak yang pintar.
Pasangan hidup, adalah teman seumur hidup . Berdua, bersama-sama merencanakan, menjalani, melewati, menghadapi semua yang terjadi, seluruh kenyataan yang ada, dengan modal pertama yaitu pasu-pasu pemberkatan nikah. Maka ditiuplah peluit: START lembaran hidup baru!!! Saya tidak sendirian lagi, seperti kata manusia pertama :Adam.
Paber Sihar Columbus Simamora, adik saya nahutodohon, tinodohonna muse Togu Natanael Simamora, tinodohon na muse, Sumono Isak Agape Simamora. Columbus berarti penemu benua Amerika, Natanael berarti Nabi Natan, Isak berarti anak perjanjian Abraham, sedangkan nama saya sendiri abang mereka Jadiaman berarti menjadi aman lah semua. Kami memiliki oang tua yang sangat sayang, bapak kami memiliki istri yang sangat hebat, yaitu dainang nami T boru Silaban. Kami anak-anaknya semua laki-laki lahir dan besar di Doloksanggul, kecuali ito kami lahir dan besar di Daerah Istimewa Yogyakarta, ito kami bernama Karsike boru Simamora, dibawa oleh bere ni bapa untuk menjadikannya boru.

Masa kecil dahulu, begitu kata orang tua. Kamu sering minta makanan, kalau mendengar suara kresek kantongan plastik, dalam pikiranmu selalu ada makanan didalam plastik itu. Kamu merengek-rengek sampai diberi makanan. Itulah yang terjadi padamu sewaktu masih bayi.
Tetapi foto yang ditampilkan disini adalah foto masa kecil, SD s/d SMP dulu, seperti kata orang tua… eh! bukan kata orang tua lagi, karena saya sudah bisa merekam sendiri. SDN 173395 adalah SD saya dulu, kepala sekolahnya bernama Mainur Lumbangaol (alm), beliau sekaligus sebagai guru sekolah minggu di gereja kami GKPI Dolokanggul Kota. Banyak teladan dan nasehat dari beliau, yang paling tidak bisa dilupakan adalah sewaktu dia marjamita (kotbah), sangat enak didengar, dia akan melengkapi kotbahnya dengan Sound System dari mulutnya sendiri, misalnya : ketika menceritakan (kotbah) tentang nabi Elia yang naik ke kereta ke surga, dia akan memperdengarkan suara yang marngongos…(seperti suara angin yang kencang), sehingga kita seakan-akan langsung menyaksikan kejadian yang diceritakannya.
Beliau sangat kami hormati, dan sayangi, biarpun kita di masa kecil mulai suka bandal-bandal, bermain-main petasan, latak-latak (petasan isi ulang terbuat dari busi motor), manangko jambu, manangko gadong di sibundong, gadong sirio(ubi kayu) dihali dari kepunyaan orang lain, mangalondosi (menginjak-injak) kebun orang biar ada jalan pintas menuju aek Sibundong (sungai), yang penting senang.
St.Berlin Silaban (nahinan) ialah oppung saya (oppung bao). Beliau adalah mantan Vorhanger HKBP Silaban, menjabat sekitar tahun 1980an. Selama hidupnya dia tinggal di desa Sitonggi-tonggi, Silaban. Menurut cerita dari anaknya (Tulangku) Oppung ini pernah berjalan jauh sampai ke Barus hanya untuk mengambi garam dari laut pesisir Barus. (bersambung…)
Pantun Hangoluan, Tois Hamatean. Kalimat ini adalah falsafah orang Batak, yang artinya : jika berbuat baik, santun, akan mendapatkan kehidupan, tetapi sebaliknya jika berbuat jahat akan mati. Orang Batak sangat menjunjung tinggi hal dan nilai-nilai kehidupan. Hidup itu sangatlah berharga, orang yang mau hidup berbuat kebaikanlah. Saya sendiri sering diajarkan oleh bapak saya sejak dari kecil sudah ditanamkan : Pantun Hangoluan, Tois Hamatean. Burju-burju ma ho!
Inspiring Woman : adalah sebuah judul yang oleh adik saya Faber SC Simamora (si ombus) ditempel di depan mobil kami (tepatnya mobil ibu), tanpa menanyakan kepadanya saya sudah langsung bisa menangkap arti yang tersirat dari tulian tersebut, "Wanita yang menginspirasi", memang ibu (dainang) kami adalah orang yang penuh semangat, enerjik, dan passari (pencari nafkah bagi anak-anaknya). Dia yang menjadi penolong yang sangat sepadan bagi bapak kami, selalu menjadi bagian dari dorongan semangat bagi kami anaknya. Pengalamannya dari bertani palawija, kopi, juga sebagai parrengge-rengge di onan (pasar) yang mana dari parrengge-renggeannya tersebut kami bisa sekolah, bahkan dia juga sangat piawai manaha soban, sewaktu dapur kami masih di era kayu bakar (soban). Sekarng ibu sudah berusia 51 tahun, lumayan sudah mulai tua. Foto diatas adalah foto lama sekitar tahun 1989.